
JURNALIS KALBAR – PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Ketapang melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bersama Mitra Pembangunan Ketapang (MPK) melaksanakan sosialisasi program pelestarian mangrove dan pengembangan silvofishery kepada masyarakat Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Kamis (07/05/2026).
Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun kolaborasi multipihak guna mendukung pelestarian ekosistem pesisir, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan.
Program tersebut dirancang sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat pesisir melalui pendekatan pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Melalui konsep silvofishery, masyarakat didorong mengelola kawasan pesisir secara produktif tanpa mengabaikan kelestarian hutan mangrove sebagai benteng alami kawasan pantai.
Direktur Mitra Pembangunan Ketapang (MPK), Donatus Rantan, mengatakan bahwa program ini hadir untuk menciptakan keseimbangan antara pemanfaatan ekonomi dan upaya konservasi lingkungan.
“Program ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan ekonomi masyarakat, tetapi juga mendorong konservasi lingkungan secara nyata. Dengan pendekatan silvofishery, masyarakat dapat memanfaatkan kawasan pesisir secara produktif tanpa merusak ekosistem mangrove yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan,” ujar Donatus.
Manager PLN UP3 Ketapang, Yusrizal Ibrani, menegaskan bahwa program TJSL merupakan wujud komitmen PLN dalam menghadirkan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
“Melalui program ini, PLN ingin menghadirkan dampak nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Tidak hanya menjaga ekosistem mangrove, program silvofishery juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan serta membuka peluang ekonomi masyarakat pesisir secara berkelanjutan. Kami berharap masyarakat dapat terlibat aktif sehingga program ini benar-benar menjadi milik bersama,” kata Yusrizal.
Ia menambahkan, pendekatan kolaboratif menjadi kunci utama dalam memastikan keberlanjutan program di lapangan. Keterlibatan pemerintah daerah, kelompok masyarakat, serta mitra pembangunan dinilai akan memperkuat efektivitas pelaksanaan program dalam jangka panjang.
Sementara itu, General Manager PLN UID Kalimantan Barat, Maria G.I. Gunawan, menyampaikan bahwa program TJSL PLN merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat di Kalimantan Barat.
“PLN berkomitmen menghadirkan program TJSL yang mampu memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Program di Kuala Satong ini menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat dapat menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan, khususnya dalam menjaga ekosistem mangrove dan memperkuat ketahanan pangan masyarakat pesisir,” ungkap Maria.
Maria juga menekankan bahwa pelestarian mangrove memiliki peran strategis dalam mendukung mitigasi perubahan iklim, melindungi kawasan pesisir dari abrasi, serta menjaga keberlangsungan sumber daya perikanan yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat.
Melalui sinergi antara PLN, pemerintah daerah, kelompok masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, program TJSL di Desa Kuala Satong diharapkan dapat menjadi model pembangunan pesisir berkelanjutan yang mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (m@nk)











