
JURNALIS KALBAR – Senja baru saja turun ketika sebuah lampu akhirnya menyala di rumah sederhana milik Rosdiana, seorang ibu tunggal dengan dua orang anak di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Selasa (4/3). Cahaya itu mungkin tampak biasa bagi sebagian orang, namun bagi perempuan berusia 59 tahun tersebut, nyala lampu itu menjadi penanda dimulainya babak kehidupan yang baru.
Selama bertahun-tahun Rosdiana hidup dalam keterbatasan listrik. Untuk menerangi rumahnya, ia harus menyambung listrik dari rumah tetangga dengan daya yang sangat terbatas. Aktivitas malam hari sering terhambat bahkan untuk menyalakan lampu pun harus bergantian dengan kebutuhan listrik rumah lain.
Di tengah keterbatasan itu, Rosdiana tetap berjuang menghidupi keluarganya sebagai pembuat kue rumahan. Setiap hari ia membuat berbagai kue sederhana untuk dijual kepada tetangga dan warga sekitar. Namun tanpa listrik yang memadai, aktivitasnya kerap terkendala terutama saat harus menyiapkan adonan atau menyelesaikan pesanan di malam hari.
Malam-malam Ramadhan yang seharusnya penuh ketenangan kerap dilalui dalam cahaya redup. Namun kini, suasana itu berubah. Untuk pertama kalinya, rumah Rosdiana memiliki sambungan listrik resmi dari PLN.
Di tengah hangatnya bulan suci Ramadhan, rumah sederhana itu akhirnya diterangi cahaya yang selama ini hanya menjadi harapan.
Rosdiana menjadi salah satu dari 10 warga di Kabupaten Sintang yang menerima bantuan sambungan listrik gratis melalui program Light Up The Dream (LUTD). Program ini merupakan inisiatif sosial para pegawai PLN yang secara sukarela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu masyarakat prasejahtera memperoleh akses listrik secara mandiri.
Program Light Up The Dream tahun ini dinyalakan secara serentak di seluruh Indonesia pada 4 Maret 2026. Penyalaan tersebut menjadi bagian dari komitmen PLN untuk terus memperluas akses listrik sekaligus menghadirkan terang bagi masyarakat yang selama ini belum memiliki sambungan listrik sendiri.
Manager PLN UP3 Sanggau, Hendy Gita Wedhatama, mengatakan program tersebut lahir dari semangat kepedulian dan gotong royong para pegawai PLN untuk membantu masyarakat yang membutuhkan akses listrik.
“Program Light Up The Dream menjadi wujud kepedulian pegawai PLN untuk berbagi dengan masyarakat yang membutuhkan. Kami berharap listrik yang hadir tidak hanya menerangi rumah, tetapi juga menumbuhkan semangat baru bagi keluarga penerima manfaat,” ujarnya.
General Manager PLN UID Kalimantan Barat, Maria GI Gunawan, menegaskan bahwa listrik memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Light Up The Dream merupakan gerakan kepedulian dari pegawai PLN untuk masyarakat. Kami berharap listrik yang hadir dapat memberikan manfaat nyata bagi kehidupan penerima, baik untuk aktivitas sehari-hari maupun membuka peluang ekonomi,” ungkap Maria.
Program Light Up The Dream telah berjalan sejak tahun 2020 sebagai gerakan sosial berbasis donasi sukarela pegawai PLN. Melalui program ini, para pegawai PLN bergotong royong membantu keluarga prasejahtera agar dapat memperoleh sambungan listrik secara mandiri.
Di Kalimantan Barat, program tersebut telah menghadirkan terang bagi lebih dari 1.177 keluarga yang sebelumnya belum memiliki sambungan listrik sendiri.
Maria menjelaskan, penerima bantuan program ini merupakan warga prasejahtera yang diusulkan oleh perangkat lingkungan seperti RT atau kepala desa melalui PLN setempat. Mekanisme tersebut dilakukan untuk memastikan bantuan tepat sasaran kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Menurutnya, penyalaan yang dilakukan secara serentak di berbagai daerah juga menjadi simbol semangat gotong royong PLN dalam mewujudkan pemerataan akses listrik bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Bagi Rosdiana, lampu yang kini menyala di rumahnya bukan sekadar penerangan.
Bagi seorang ibu yang setiap hari membuat kue demi menyambung hidup keluarganya, cahaya itu juga berarti kesempatan untuk bekerja lebih leluasa, menerima lebih banyak pesanan, dan menyalakan harapan baru. (m@nk)












